Senin, 20 Desember 2010

Carnivex Live In Indonesia



13 January 2011
Venue: GOR Bekasi
Harga PRESALE 2: Rp 100.000
Bagi 30 pembeli pertama, harga tiket presale hanya Rp 75.000!
On The Spot: Rp 150.000

Jakarta:
Dr Saharjo No 2 (dekat Pasaraya Manggarai)
Manggarai, Jakarta Selatan
Telp (021) 8282137

Surabaya:
Ngagel Jaya Utara No. 176 (Toko Buku Manyar)
Surabaya
Telp. (031) 71364777, 087853469777

Kamis, 14 Oktober 2010

Darkness Ceremony #2

Event metal gelaran Darkness Ceremony jilid kedua ini akan diadakan pada hari Minggu, 31 Oktober 2010, di Marabunta Building Semarang, Jawa Tengah.
Diisi oleh performa band-band underground lokal dan luar kota, seperti:
Devoid (Bandung)
Depo Sampah (Surabaya)
Sexual Silence (Surabaya)
Prilayaning Jagat (Surabaya)
Hatred Creation (Blitar)
Jehovah (Lumajang)
Mahkota (Kudus)
Berzier (Kudus)
Petilasan (Jogja)
Anaeshtesia (Magelang)
Total Damage (Borobudur)
Death Orgasm (Cepiring)
Bloody Cream (Cepiring)
Matricide (Cepiring)
Najism (Ungaran)
Pitakon Kubur (Mranggen)
Bleeding Coffin (Mranggen)
Fatal Brain (Mranggen)
Putrefaction (Semarang)
Propaganda (Semarang)
Death Agony (Semarang)
D.O.C (Semarang)
Talasemia (Semarang)
Dan lain-lain

Rabu, 13 Oktober 2010

Halloween

Gelaran ini diadakan di Magnetzone Cafe, Surabaya pada hari Sabtu, 30 Oktober 2010.
Acara ini gratis, tanpa membayar tiket, hanya jika ada yang ingin mendapatkan merchandise berupa t-shirt Halloween Season dapat ditebus dengan harga Rp 50.000,00.
Menghadirkan special performance dari band-band seperti:
Blokade
Baby Doll
Screaming Out
Razorblade Terror
My Mother Is Hero
Toast n Bananas
Victim (Jakarta)
A Lollypop From Bumblebee (Jakarta)
No Racist (Jakarta)
Amonra
Step Mom Loozers
Renascent of Rendezvous

Selain itu, masih banyak band-band lain yang akan turut mengisi acara ini, seperti:
Morganostic
Charpatia
Wraith of Light Flames
Freakin Out
Nyam-Nyam Cheese
Joiner Drunkard
Last One Dying
S.O.C
Vesuvius
Pitfall Otters
Goody Goods
Until 6 P.M
Pilgrim
Spartachust
Dante Must Die
Hollowed Bastions
Slip On
Dassolen
Violence Sovia
Dan lain-lain

Selasa, 12 Oktober 2010

Citayam Black More Night (Citayam Meledug #1)

Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 23 Oktober 2010, di KNPI Cibinong Pemda Bogor, Jawa Barat, dan direncanakan akan diadakan seterusnya secara bersambung, karena dapat dikatakan acara ini sebagai deretan Citayam Meledug yang pertama.
Menampilkan performa band-band underground seperti:
Grindbuto
Demoniac
Aaarghhh
Sadistis
Gelgamesh
Gelap
Ritual Doom
Dan lain-lain

Senin, 11 Oktober 2010

Metal Untuk Semua (Konser Pro-Pluralisme & Anti Terorisme)

Acara ini diselenggarakan di Bulungan Open Air, Jl. Raya Bulungan, Jakarta, pada hari Minggu, 17 Oktober 2010, menampilkan performa band-band metal/rock papan atas, seperti:
Roxx
Siksakubur
Deadsquad
Seringai
Funeral Inception
Dreamer
Panic Disorder
Rajasinga
Death Valley
Ritual Doom
Gelap
Trauma
Oracle
Prosatanica
Gigantor
Sabor
Death’sgray
Dan lain-lain

Konser ini merupakan konser kolektif yang bertujuan mengkampanyekan perdamaian, menghargai perbedaan dan toleransi antar umat beragama yang belakangan ini mulai terganggu dengan aksi-aksi kekerasan dan teror yang berkedok agama.
Sasaran kampanye ini adalah anak-anak muda penggemar musik metal yang ada di Jakarta khususnya dan seluruh Indonesia pada umumnya. Seluruh band yang tampil di event ini tak ada satu pun yang dibayar, semua bermain secara cuma-cuma bahkan sebagian di antaranya merupakan panitia pelaksana acara yang bertujuan untuk menyebarluaskan pesan kepada khalayak bahwa publik musik keras anti terhadap tindak kekerasan dan terbiasa menghargai perbedaan agama, suku maupun ras.
Komunitas Metal untuk Semua adalah gerakan musik metal independen yang terbuka untuk semua golongan, suku, agama, ras, genre musik dan pilihan keyakinan pribadi masing-masing serta menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme.

Selasa, 28 September 2010

Distorsi Maximum 4

Palangkaraya Metal Corner kembali menghadirkan event underground terbesar se-Kalimantan Tengah sebagai bagian dari bundel Distorsi Maximum. Kali ini berlainan dengan tradisi sebelumnya yang outdoor, Distorsi Maximum 4 akan diselenggarakan indoor pada Sabtu, 11 Desember 2010, di Gedung Dharma Wanita, Palangkaraya. Dan jilid Distorsi Maximum kali ini menghadirkan kejutan yaitu dengan adanya sekaligus dua band sebagai bintang tamu, Jasad dari Bandung dan Killharmonic dari Kediri.
Menariknya, selain baru pertama kali ini event Distorsi Maximum menghadirkan bintang tamu band metal papan atas, Jasad dan Killharmonic sendiri belum pernah tampil live di bumi Kalimantan. Jadi, ini merupakan hal yang pertama kalinya selain bagi Palangkaraya Metal Corner, maupun bagi band Jasad dan Killharmonic.
Selain itu, event ini tetap menghadirkan band-band underground lokal lainnya, seperti Stonehead, Kromoleyo, Necrophilia, Dead Occulta, Antrodemus, Uncle Jack, dan lain-lain.

Selasa, 21 September 2010

Exhausted Soul

Event metal ini akan digelar di Taman Van der Pijl, Banjarbaru pada hari Sabtu, 25 September 2010, dan menghadirkan bintang tamu Wafat, salah satu band death metal papan atas yang berasal dari Surabaya. Acara ini diisi oleh performa para band-band underground Banjarbaru, Barabai, dan sekitarnya, seperti Antrodemus, Balambika, Penghianat, dan lain-lain. Juga tak ketinggalan dari Palangkaraya meski hanya satu band yang akan tampil yaitu Kromoleyo.

Selasa, 20 Juli 2010

Borneo Dangerous 2010

Gelaran underground kali ini diselenggarakan bersamaan dengan launching sebuah album kompilasi musik underground Kalimantan Tengah yang bertajuk BORNEO DANGEROUS 2010. Event ini diselenggarakan pada Sabtu, 07 Agustus 2010, bertempat di Taman Kota Jl. Yos Sudarso Palangkaraya. Sesuai dengan namanya, album ini memang berisikan lagu-lagu karya dari band-band underground yang ada di kota Palangkaraya dan sekitarnya.
Tujuan dari diadakannya album kompilasi ini adalah untuk mengembangkan kreatifitas dari band-band yang ada, sehingga tidak muncul suatu persepsi bahwa band-band tersebut hanya bisa membawakan lagu-lagu band orang lain saja. Dan juga, dengan adanya album kompilasi ini juga turut memberikan sebuah warisan kepada generasi-generasi muda yang ada di kota Palangka Raya bahwa band pendahulunya telah memiliki suatu karya. Memang, jika suatu band ingin dikenang atau diingat, setidaknya band tersebut sudah memiliki suatu karya yang patut dibanggakan.
Ada banyak band-band lokal underground yang akan membawakan single andalannya masing-masing, seperti NECROPHILIA (Drenching Myself in Blood), BRUTUFUCK (Fatal Orgasm Machine), KROMOLEYO (Kabut Kemurkaan), TERANGSANG TORTURE (Primadona Jalang), STONEHEAD (Never Run), DEAD OCCULTA (Terpuruk Dalam Penantian), HEADQUARTER, BLOOD INHIBITOR (Crusader of God), UNCLE JACK, dan masih banyak lainnya.
Sesuai dengan informasi yang didapat, harga CD-nya cukup murah, yaitu Rp. 15.000,00. Selain itu, band-band yang turut serta dalam album tersebut akan tampil secara live! Dan rasakanlah kebrutalannya!

Sabtu, 10 Juli 2010

Total Kiamat Moral #3

Acara ini diselenggarakan di GOR Bahurekso, Kendal, pada tanggal 01 Agustus 2010
Menampilkan aksi-aksi band metal lokal seperti:
Demoniac
Mendiang
Brutal Corpse
Demigod
Lost Another
Dan lain-lain

Senin, 19 April 2010

Distorsi Maximum 3

Event underground Distorsi Maximum kembali dihadirkan oleh Palangkaraya Metal Corner, kali ini jilid ketiga dan diselenggarakan pada hari Sabtu, 17 April 2010, dan seperti sebelumnya, event kali ini bertempat di Taman Kota Palangkaraya, Jl. Yos Sudarso, Palangkaraya.
Masih seperti line-up sebelumnya, Distorsi Maximum 3 ini akan diisi oleh penampilan band-band metal lokal, seperti:
Kromoleyo
Terangsang Torture
Dead Occulta
Gorok
Stonehead
Uncle Jack
Antrodemus
Dan lain-lain

Selasa, 16 Februari 2010

Black Valentine

Acara yang diselenggarakan pada hari Minggu, 21 Februari 2010, di Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin ini diselenggarakan atas kerjasama event organizer underground setempat dengan sponsor rokok Up Mild. Dimulai pada pukul 09.00 WITA sampai dengan selesai, menghadirkan band-band underground lokal dengan berbagai genre metal dan juga punk. Beberapa band metal terkenal dari Banjarbaru juga akan turut mengisi event ini, seperti Brigade 666, dan Antrodemus. Sementara band dari Palangkaraya yang akan hadir yaitu Necrophilia dan Terangsang Torture.

Senin, 30 November 2009

Distorsi Maximum 2

Event underground terbesar se-Kalimantan Tengah ini akan digelar oleh Palangkaraya Metal Corner—sebuah wadah metalheads underground Kalimantan Tengah—pada hari Sabtu, 19 Desember 2009, 15.00 WIB sampai dengan selesai.
Diadakan di Taman Kota Palangkaraya, Jl. Yos Sudarso Palangkaraya ini akan diisi oleh penampilan dari band-band metal terkenal dari Palangkaraya, Kapuas, Muara Teweh, juga dari Banjarmasin dan Banjarbaru, seperti:
Dead Occulta (Palangkaraya)
Stonehead (Palangkaraya)
Uncle Jack (Palangkaraya)
Kromoleyo (Palangkaraya)
Malaikat (Kapuas)
Depravity (Palangkaraya)
Granath (Palangkaraya)
Necrophilia (Palangkaraya)
Terangsang Torture (Palangkaraya)
The Mortal (Palangkaraya)
Gorok (Palangkaraya)
Radiasi (Palangkaraya)
Anti (Banjarmasin)
Jalur Ijo (Palangkaraya)
Brigade 666 (Banjarbaru)
Dan lain-lain

Jumat, 14 Agustus 2009

Kejutan bagi Dream Theater

Dream Theater (DT) membuat kejutan besar tahun ini. Album terbaru band metal progresif asal AS tersebut, ‘Black Clouds & Silver Linings’ di luar dugaan berhasil menembus peringkat 10 besar album terlaris di AS versi Billboard 200. Pada minggu pertama perilisannya, penjualannya mencapai angka 40.285 keping dan berhak nangkring di posisi 6. DT sudah berkarir selama 25 tahun lebih dan baru kali ini bisa menghuni peringkat top ten bergengsi tersebut.

Sebagai band yang selama ini setia berkubang di area ‘bawah tanah’ untuk menyuapi para ‘true rock/metalhead’; berada di daftar peringkat 10 besar album komersil nyaris tak pernah terlintas di benak para personelnya, James LaBrie (vokal), John Petrucci (gitar), John Myung (bas), Jordan Rudess (kibor) dan Mike Portnoy (dram). Toh, selama menjalani karir yang terentang sepanjang seperempat abad, DT telah terbiasa ‘terabaikan’ dari lingkaran ‘mainstream’. Satu-satunya album yang pernah membuat DT terngiang di radio-radio komersil dan saluran musik MTV adalah ‘Images and Words’ (1992), yang melejitkan single ‘Pull Me Under’ dan ‘Another Day’.

“Ini benar-benar menakjubkan,” seru Mike Portnoy setengah tak percaya. Menurut salah satu dramer rock terbaik di dunia ini, rasanya tak terbayangkan untuk sebuah album yang empat lagunya berdurasi di atas 12 menit bisa laris dan terjaring peringkat Top Ten. “Kami benar-benar sangat berterima kasih pada para penggemar atas dukungannya, yang percaya band ini sebagai sebuah kekuatan musik,” tambahnya.

‘Black Clouds & Silver Linings’ merupakan album studio ke-10 DT, atau yang kedua di bawah bendera Roadrunner Records (di Indonesia dirilis oleh Warner Music Indonesia). Sebelumnya, DT telah merilis ‘Systematic Chaos’ (2007) di label yang tercatat baru 10 kali dalam 30 tahun karirnya menempatkan album produksinya di daftar peringkat Billboard 200. Selain dalam format kepingan CD standar, ‘Black Clouds’ juga dirilis dalam format vinyl LP serta edisi khusus yang berisi tiga keping CD, masing-masing berisi kepingan untuk full album, versi instrumental dan tambahan enam lagu daur ulang. Satu format rilisan lainnya adalah box set yang hanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk para kolektor.

Mike Portnoy dkk mulai menggarap proses rekaman ‘Black Clouds’ yang materinya telah disiapkan sejak Oktober 2008, sekitar awal Juni 2009 silam. Mike dan John Petrucci bertindak sebagai produser, plus bantuan dari Paul Northfield untuk menangani pengolahan suara hasil rekaman (mixing). Mike menggambarkan ‘Black Clouds’ sebagai campuran dari karakter progresi lagu-lagu seperti ‘A Change of Seasons’, ‘Octavarium’, ‘Learning to Live’, ‘Pull Me Under’ dan ‘The Glass Prison’. Bahkan Jordan Rudess menambahkan, ada sedikit nuansa Gothic di komposisi musik keseluruhan.

Begitu juga dengan lirik, dimana tema ‘hitam’ lebih mendominasi. Mike dan John menyebutnya sangat fokus pada pengalaman pribadi saat menghadapi masa-masa sulit. John menulis lagu ‘A Nightmare to Remember’ yang mengisahkan kecelakaan mobil yang ia alami pada masa kecilnya. Lalu ada lagu ‘The Best of Times’, lagu karya Mike tentang kematian ayahnya setelah bergulat melawan kanker. Sementara lagu ‘The Shattered Fortress’ juga ditulis Mike, merupakan seri penutup dari 12 langkah mengatasi ketergantungan alkohol. Tema lirik yang mulai ia dengungkan sejak album ‘Six Degrees of Inner Turbulence’ (2002).

MAJESTY
Tiga mahasiswa asal Berklee College of Music di Boston AS; yakni John Myung, John Petrucci dan Mike Portnoy yang memulai cikal bakal DT pada 1985. Awalnya, ketiganya mengibarkan nama Majesty dan kebanyakan memainkan lagu-lagu milik Rush atau Iron Maiden. Ketiganya lantas merekrut personel tambahan, yakni kibordis Kevin Moore serta vokalis Chris Collins. Usai memproduksi demo berjudul ‘The Majesty Demos’ yang berhasil terjual sebanyak 1.000 kaset dalam enam bulan, Chris Collins keluar. Itu terjadi sekitar November 1986. Lantas masuk Charlie Dominici sebagai vokalis baru, yang terpilih setelah melewati proses audisi. Formasi inilah yang lantas merekam dan merilis debut ‘When Dream and Day Unite’ (1989), album yang digarap hanya dalam waktu tiga pekan.

Belum sempat memulai rekaman album berikutnya, Charlie dipecat dari band. Alasannya, masalah personal dan ketidakbecusannya mengikuti tuntutan konsep musik di Dream Theater. Setelah menggelar audisi yang diikuti lebih dari 200 penyanyi, mereka sempat merekrut vokalis bernama Steve Stones. Namun sekali lagi, karena kurang memuaskan; Steve pun dienyahkan. Akhirnya, dalam beberapa kesempatan manggung, mereka mengusung format instrumental dan memakai Ytse Jam sebagai nama band.

Pada Januari 1991, saat Mike Portnoy dkk sudah memulai proses penulisan lagu untuk album Dream Theater berikutnya, Kevin James LaBrie yang tadinya menghuni band glam metal bernama Winter Rose terbang dari Kanada ke New York untuk mengikuti audisi. Hanya dengan modal jamming tiga lagu, James LaBrie langsung direkrut. Formasi ini lantas masuk studio dan merampungkan album ‘Images and Words’ (1992) yang antara lain melejitkan lagu ‘Pull Me Under’, ‘Take the Time’ dan ‘Another Day’. Selanjutnya, perjalanan karir Dream Theater tidak lagi diwarnai pergantian posisi vokalis. Namun di belakang kibor, ada tiga nama yang pernah memperkuat band ini. Sebelum Jordan Rudess, tentunya ada Kevin Moore (1986-1994) dan Derek Sherinian (1994-1998).

DISKOGRAFI
When Dream and Day Unite (1989)
Images and Words (1992)
Awake (1994)
Falling into Infinity (1997)
Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory (1999)
Six Degrees of Inner Turbulence (2002)
Train of Thought (2003)
Octavarium (2005)
Systematic Chaos (2007)
Black Clouds & Silver Linings (2009)

Sabtu, 06 Desember 2008

Belphegor, si setan dari Austria

Latar Belakang
Dikenal juga sebagai Betrayer
Asal: Salzburg, Austria
Genre: Death metal, black metal
Tahun aktif: 1991-sekarang
Label: Napalm, Nuclear Blast

Anggota
Helmuth - vokal (sejak 1993), gitar (sejak 1991)
Morluch - gitar (sejak 2008)
Serpenth - bass, live backing vocal (sejak 2006)

Anggota lainnya
Chris - drum (1991-1992 atau 1993)
Maxx - vokal, bass (1991-1992 atau 1993)
A-X - bass (session, antara 1993 dan 1996)
Man - drum (session, 1997, 2000)
Marius "Reverend Mausna" Klausner - bass (1996-2002)
Torturer - drum (2002-2005)
Barth - bass (2002-2006)
Robin Eaglestone - bass (session, 2006)
Nefastus - drum (2005-2006)
Sigurd - gitar (1991-2007)

Additional player
Studio
Nefastus - drum (2009)
Torturer - drum (2007)

Live
Marthyn (Martin Jovanovic) - drum (sejak 2009)
Robert Kovacic - drum (2007-2009)
Blastphemer (Jan Benkwitz) - drum (sejak 2006)
Torturer - drum (sejak 2007)
Tony Laureano - drum (2007)
Lille Gruber - drum (2007)
Anthony Paulini - gitar (2008-2010)

Belphegor adalah salah satu band black/death metal Austria yang berasal dari Salzburg, aslinya dibentuk pada tahun 1991 dengan nama Betrayer sebelum merubah namanya pada tahun 1993. Mereka menamai band mereka dengan nama setan, Belphegor.

Sejarah
Belphegor dibentuk dengan nama Betrayer pada tahun 1991 oleh vokalis dan bassis Maxx, gitaris Helmuth dan Sigurd, dan drummer Chris. Mereka merilis demo pertama mereka ‘Kruzifixion’ pada April 1991, dan ‘Unborn Blood’ kemudian. Setelah memakai nama Belphegor pada tahun 1993, mereka merilis demo lainnya, ‘Bloodbath in Paradise’ dalam format Maxi-CD. Setelah merilis demo tersebut, Maxx keluar, dan Helmuth merangkap menjadi vokalis dan gitaris sejak saat itu. Antara tahun 1993 dan 1996 A-X mengisi bass, dan setelah itu Mario "Marius" Klausner bergabung sebagai anggota penuh mengisi posisi bassis.

Belphegor segera dikontrak oleh Perverted Taste Records, label yang merilis demo ‘Obscure and Deep’ pada tahun 1994. Dalam demo ini juga terdapat lagu cover Black Sabbath ‘Sabbath Bloody Sabbath’. Album pertama mereka, The Last Supper, dirilis oleh Lethal Records pada Januari 1995. Pada waktu ini pula logo band didesain ulang dengan menyertakan dua salib terbalik yang dikelilingi oleh darah.

Album kedua ‘Blutsabbath’ dirilis pada Oktober 1997, dibantu oleh Man (dari Mastic Scum) pada drum. Diikuti dengan tur di Eropa pada bulan April dan Mei 1998 bersama Behemoth dan Ancient. Debut album ‘The Last Supper’ dirilis ulang pada tahun 1999 dan dibalut dengan cover baru dan diisi juga dengan 6 lagu tambahan dari EP ‘Obscure and Deep’.

Tahun berikutnya, album ketiga ‘Necrodaemon Terrorsathan’ dirilis oleh Last Episode (sekarang dikenal sebagai Black Attakk), di mana Man kembali mengisi drum. Belphegor kemudian meninggalkan Last Episode dan menuduh mereka sebagai "label sobekan". Pada Januari 2001, Belphegor menjadi bintang tamu di beberapa show di pentas ‘Fuck The Commerce IV’, ‘With Full Force VIII’ dan ‘Hell On Earth’ di Jerman dengan dukungan dari Dunkelgrafen dan Dawn of Dreams. Pada tahun 2002, Belphegor bermain di Summerbreeze, Brutal Assault dan Morbide Festspiele untuk beberapa pertunjukan di Jerman pada bulan Desember. Pada saat inilah Belphegor merekrut drummer Torturer (Mor Dagor) dan bassis Barth. Setelah merilis album live ‘Infernal Live Orgasm’ dengan label sendiri Phallelujah Productions, mereka dikontrak oleh Napalm Records.

Setelah dikontrak Napalm Records, formasi vokalis dan gitaris Helmuth, gitaris Sigurd, bassis Barth dan drummer Torturer merekam album keempat ‘Lucifer Incestus’, diproduseri oleh Alex Krull dari Atrocity. Album ini dirilis pada Desember 2003, dan diikuti tur di seluruh Eropa.

Belphegor masuk ke Mastersound Studio di Fellbach selama September 2004 untuk merekam album kelima ‘Goatreich-Fleshcult’, lagi-lagi dengan produser Alex Krull. Kemudian Belphegor mengikuti mini-tour pada bulan Nopember bersama Disastrous Murmur, dan bermain di X-Mass Festival di samping Napalm Death, Marduk, Finntroll dan Vader. Pada Februari 2005, Goatreich-Fleshcult dirilis dalam berbagai format, termasuk vinyl edition yang terbatas sebanyak 1.000 kopi. Lagu instrumental ‘Heresy of Fire’ ditambahkan dalam format digipack sebagai bonus. Pada bulan yang sama, drummer Torturer keluar dan diganti oleh Nefastus (Tomas Janiszewski). Pada bulan April, Belphegor menggelar 80 hari Goatreich-Fleshcult Europe Tour Pt. I dengan dukungan dari Arkhon Infaustus, Asmodeus dan In Aeternum. Kemudian mereka mengakhiri kontrak dengan Napalm Records, dengan alasan label tersebut tidak mendukung mereka secara penuh, dan mereka “dicekoki dengan peralatan yang tidak mendukung.”

Belphegor menandatangani kontrak dengan Nuclear Blast pada tahun 2005, dan memulai perekaman album ‘Pestapokalypse VI’ dengan produser Andy Classen (yang juga memproduksi debut album ‘The Last Supper’) di Stage One Studios pada bulan Nopember.

Setelah memainkan bass pada 6 dari 9 lagu di album tersebut, bassis Barth terpaksa keluar dari band dan mengakhiri karirnya setelah mengalami cedera tangan yang membuatnya tak bisa bermain lagi. Hal ini membuat Belphegor mengundurkan diri dari tur bersama Hate Eternal pada April 2006, dan Helmuth terpaksa mengisi kekosongan bass dalam album tersebut, saat Robin Eaglestone (eks Cradle of Filth, Imperial Black) kemudian direkrut sebagai session bassis untuk penampilan live antara bulan April dan Oktober. Barth kemudian digantikan oleh Serpenth, yang bergabung pada bulan Oktober.

‘Pestapokalypse VI’ dirilis pada Oktober 2006, dan drummer Nefastus keluar setelah itu. Dan Belphegor banyak merekrut session drummer termasuk Lille Grubber, Blastphemer (Jan Benkwitz) dan drummer lawas Belphegor, Torturer. Pada bulan yang sama Nuclear Blast mengeluarkan ‘Pestapokalypse VI’ dalam edisi spesial, terbatas hanya 500 kopi dalam format CD dalam digipack. Versi vinyl dari album ini juga terbatas sebanyak 500 kopi. Pestapokalypse VI kemudian dipromosikan dalam video dengan lagu ‘Bluhtsturm Erotika’ dan ‘Belphegor-Hell's Ambassador’ yang disutradarai oleh Florian Werner.

Belphegor juga akan tampil pada X-Mass Festival bulan Desember 2006, namun festival dibatalkan. Kemudian Belphegor bersama band-band lain mendukung Danzig dalam tur Blackest of the Black di Amerika Utara pada Desember 2006-Januari 2007, dan mereka tur kembali di Amerika Utara pada Februari-Maret 2007 dengan Unleashed, Krisiun, dan Hatesphere. Lalu dengan dukungan Kataklysm dan Unleashed dan juga Arkhon Infaustus, Belphegor menjadi band tamu dalam Midvinterblot European Tour Part II pada bulan Mei 2007. Mereka juga tampil di festival Wacken Open Air pada bulan Agustus. Kemudian pada bulan September, Belphegor menjadi band tamu kedua di samping Gorgoroth dalam seluruh tur di Amerika Selatan.

Pada bulan Januari 2008, Sigurd menjalani perawatan mata, dan tidak diketahui apakah ia akan terus bersama band. Namun, beberapa bulan kemudian Helmuth mengatakan bahwa Sigurd keluar sejak tur Eropa di akhir tahun 2007. Selanjutnya untuk tur mereka di Amerika Utara, pada bulan Februari 2008 Sigurd digantikan oleh Anthony Paulini, dan selanjutnya diganti oleh Morluch sebagai anggota tetap.

Pada bulan April 2008, ‘Bondage Goat Zombie’ dirilis dengan Helmuth pada vokal serta lead dan rhythm gitar, Serpenth pada bass dan Torturer pada drum. Selain dalam format CD, album ini juga dirilis dalam berbagai format termasuk limited edition digipack lengkap dengan DVD video klip, behind the scenes, dokumenter rekaman di studio, seksi live, dan pilihan terbatas Stahl lengkap dengan versi vinyl merah yang terbatas sebanyak 1.000 kopi. Diikuti dengan penampilan dalam festival Hellfest Summer Open Air di Prancis pada bulan Juni 2008, dan mendukung Nile dan Grave on the Ithyphallic dalam tur Eropa pada bulan September 2008. Pada bulan Oktober 2008, Belphegor kembali tur di Amerika Utara bersama Amon Amarth.

Diskografi
Album studio
The Last Supper (1995)
Blutsabbath (1997)
Necrodaemon Terrorsathan (2000)
Lucifer Incestus (2003)
Goatreich - Fleshcult (2005)
Pestapokalypse VI (2006)
Bondage Goat Zombie (2008)

Demo/EP
Kruzifixion (Betrayer) (1991)
Unborn Blood (Betrayer) (1991–1992)
Bloodbath in Paradise (1992)
Obscure dan Deep (1994)

Live album
Infernal Live Orgasm (2002)

Video
Vomit Upon the Cross (2001)
Lucifer Incestus (2004)
Bleeding Salvation (2005)
Belphegor - Hell's Ambassador (2006)
Bluhtsturm Erotika (2006)
Bondage Goat Zombie (2008)

Jumat, 03 Oktober 2008

Agathodaimon

Asal: Jerman
Genre: Black metal, gothic metal
Tahun aktif: 1995 – sekarang
Label: Nuclear Blast
Situs:

Agathodaimon is a black metal band from Mainz, Germany.

BIOGRAFI
The band began in September 1995[4], when guitarist Sathonys and drummer Matthias got together to assemble a dominant death metal band with harmonic arrangements (melodic death metal). They put adverts in several music magazines in the hopes that they would find suitable musicians to play with them. In answer to the advertisement, they were joined by bassist Marko Thomas and keyboardist and vocalist Vlad Dracul. The last member of their initial formation was the second guitarist, Hyperion, who joined them by the end of that year. With this formation the band recorded the Carpe Noctem demo tape, which received fair reviews from the German specialized press. It also attracted the attention of one of Century Media's executivies, who began keeping track of the band. Agathodaimon then proceeded to play minor gigs and support some European bands. Eventually, they received an offer from Century Media to fund the recording of their second demo. This demo was recorded in early 1997 and was named Near Dark. It attracted the interest of quite a few recording labels, and in the end the band opted to sign with Nuclear Blast.[5] After successfully composing the songs for their debut album Blacken the Angel, one of the members of Agathodaimon, Vlad, was forced to quit the band due to problems with immigration. After returning to his native Romania, he was denied re-entry in Germany.[5] The situation involved the fact that he had left the country during Ceauşescu's regime. The band therefore was forced to make use of guest musicians to record their debut. Akaias (from Asaru) did the vocals and Marcel "Vampallens" (from Nocte Obducta) took the role of the keyboards. Vlad's participation on the album was restricted to the solo song "Contemplation Song", which was sent to the band via air mail. The CD caused some impact, and Agathodaimon proceeded to tour with bands such as Children of Bodom and Hypocrisy. At the height of the album's success they opened gigs for Dimmu Borgir, Lacrimosa and other bands. In 1999, Vampallens decided to quit the band in order to dedicate himself fully to his main project Nocte Obducta. He was replaced by female keyboardist Christine S. To record their second album - Higher Art of Rebellion - the band travelled to Romania, in order to be able to play together with Vlad. The vocalist Akaias also participated in the recording of this album,[5] as well as singer Dan Byron performing clean vocals. Recordings took place at Magic Sound in Bucharest. A European tour as headliner with Graveworm and Siebenbürgen followed. After a short hiatus, the band recorded the album Chapter III in 2001 at the Kohlekeller Studio, Germany. Some changes to the band's structure followed, with Vlad definitely quitting the band, soon followed by Marko and Christine. Marko did leave because of health problems and quit making music, while Christine formed her own band Demonic Symphony, where she handles bass guitar and vocals. Marko and Christine were replaced by Darin Smith and Felix Ü. Walzer. In 2004 the band released the album Serpent's Embrace, which again was recorded at Kohlekeller Studio with Kristian Kohlmannslehner as producer. In early 2006 personal differences led to the split of Eddy and the rest of the band. A new bass player named Till (formerly active in Misanthropic, where Matthias also played drums for a while) joined the ranks, and the song writing for the next album is currently taking place. Release is scheduled for March 2009. Singer, Guitarist Frank "Akaias" Nordmann left in January 2007 to carry on with other musical interests.

Matthias and Jonas left the band in 2008, with Manuel Steitz taking over on drums, and in October 2008, the band announced that they had recruited a new singer, Ashtrael.

Line-up
Sathonys - Guitar, clean vocals
Jan Jansohn - guitars
Felix Ü. Walzer - Keyboards
Manuel Steitz - drums
Ashtrael - vocals

Former members
Vlad Dracul - Vocals, keyboards
Marcel "Vampallens" - Keyboards
Christine S. - Keyboards
Marko Thomas - Bass
Darin "Eddie" Smith - Bass
Hyperion - Guitar
Frank Nordmann (Akaias) - Vocals, guitars (1998-2007)
Byron - clean vocals (on Higher Art of Rebellion)
Matthias R. - Drums
Jonas Iscariot - vocals

Discography
Carpe Noctem - Demo I (1996)
Near Dark - Demo II (1997)
Tomb Sculptures (1997)
Blacken the Angel (1998)
Higher Art of Rebellion (1999)
Chapter III (2001)
Serpent's Embrace (2004)
Phoenix (2009)

Selasa, 02 September 2008

Carach Angren

LATAR BELAKANG
Asal: Landgraaf, Limberg
Genre: Theatrical Black Metal, Symphonic Black Metal
Tahun aktif: 2003 - sekarang
Label: Maddening Media
Band terkait: Vaultage
Situs:

Anggota
Seregor – Vocals dan Guitar
Ardek – Keys dan Arrangements
Namtar - Drums dan Percussion
Trystys - Live guitars

Carach Angren adalah band symphonic black metal dari Belanda, dibentuk oleh dua anggota band Vaultage. Karakter musik mereka mengemukakan penggunaan dari aransemen orkestra. Dua albumnya merupakan album konsep dengan lirik bertema tentang kisah hantu terkenal, seperti Flying Dutchman. Nama ‘Carach Angren’ sendiri berarti ‘cakar besi’ dalam bahasa Sindarian, dan merupakan nama benteng di tenggara Mordor dalam buku The Lord of the Rings, karya J. R. R. Tolkien.

Carach Angren dibentuk pada tahun 2003 di kota Landgraaf, setelah dua personel Vaultage memulai proyek sampingan, untuk mencurahkan kecintaan mereka pada legenda dan genre black metal. Nampaknya ini berjalan bagus, jadi Vaultage dibubarkan dan Carach Angren "siap menjadi langkah ke depan".

EP mereka yang pertama adalah The Chase Vault Tragedy, yang mana, seperti semua album rilisan mereka, merupakan album konsep. Berikutnya, mereka merilis EP kedua, Ethereal Veiled Existance, yang menjadi perhatian utama Maddening Media, yang memutuskan untuk mengontrak mereka pada tahun 2007. Selanjutnya, barulah Carach Angren merekam full-album pertama mereka, Lammendam.

DISKOGRAFI
Lammendam (2008)

EP
Ethereal Veiled Existance (2005)

Demo
The Chase Vault Tragedy (2004)

Senin, 25 Agustus 2008

Jurus gitar agar tak gentar 2

Seni mempercantik not
Banyak gitaris yang terlihat menawan saat memainkan gitarnya, meskipun sebenarnya ia cuma memainkan not atau melodi yang sederhana. Kenapa bisa begitu? Ya, karena mereka bisa menerapkan seni memoles not. Artinya, sebuah rangkaian not yang sederhana bisa terdengar menawan ketika kamu memainkannya dengan teknik yang beragam. Bisa dengan slide, hammer-on, pull off, bending atau trill yang terdengar halus dan terasa tak mengganggu saat mengiringi alunan suara vokalis. Untuk bisa seperti itu, memang tak butuh waktu sedikit.

Biasakan merekam latihan
Seorang atlit yang serius biasanya menonton ulang rekaman penampilannya. Seorang politikus selalu menganalisa kembali isi pidatonya. Begitu juga dengan gitaris. Selalu ada analisa dari perkembangan permainannya. Tujuannya, tentu saja untuk mendapatkan pengembangan, lebih dari sebelumnya. Jangan cuma merekam saat kamu tampil di panggung, tapi juga saat kamu sedang berlatih sendiri. Biasanya dari situ, kamu bisa mendapat banyak masukan ide yang baru.

Akrabi musik etnik
Bosan dengan scale yang ada di buku pelajaran gitar? Coba sekali-kali luangkan waktu kamu mendengarkan musik-musik etnik atau tradisional. Biasanya, musik jenis ini kaya akan ornamen serta pergerakan nada yang aneh sekaligus unik. Nah, dengan sedikit menyelaminya, kamu akan mendapatkan banyak masukan secara musikal.

Sekali-kali jauhi gitar
Maksudnya, jika kamu mulai merasa jenuh, jangan ragu-ragu untuk menanggalkan gitarmu. Berarti kamu butuh hawa segar dan ide-ide baru. Cobalah pindah ke instrumen lainnya, seperti piano, bas, terompet atau drum. Dengan memainkan instrumen lain, bisa jadi pikiran kamu akan menjadi lebih terbuka akan konsep-konsep baru.

Bermain-main dengan tuning
Menggunakan penyeteman (tuning) alternatif bisa menjadi salah satu trik yang menarik buat gitaris. Cobalah beberapa tuning berikut ini. Turunkan (drop) senar E rendah satu langkah ke D. Ini namanya Drop D yang sangat bagus untuk menonjolkan aksen power chord yang kuat. Sementara senar lainnya, yakni 1-5 tetap normal. Atau coba tuning open G (rendah ke tinggi: D-G-D-G-B-D) dengan cara menurunkan steman senar 1,5 dan 6 masing-masing selangkah. Keith Richards (gitaris The Rolling Stones) biasa menggunakan tuning ini. Bagaimana? Kamu juga bisa mencoba tuning lainnya seperti D-A-D-G-A-D atau open C (rendah ke tinggi: C-G-C-G-C-E)

Bending "2 in 1"
Supaya permainan solo kamu bisa terdengar lebih tebal, kamu bisa menerapkan teknik bending unison. Di mana misalnya senar rendah dibengkokkan (bending) untuk mengejar nada (pitch) dari senar tinggi yang dimainkan secara bersamaan.

Kurang disiplin berlatih? Mengajarlah!
Jika kamu termasuk gitaris yang kurang disiplin dalam berlatih, kamu bisa mencoba cara lain untuk mengasah kemampuan kamu. Misalnya dengan mengajar gitar. Dengan begitu, mau tak mau kamu harus selalu tetap berlatih dan menambah wawasan untuk keperluan mengajar. Apalagi jika murid kamu berasal dari level yang berbeda-beda, berarti membutuhkan penanganan yang berbeda-beda pula.

Jumat, 11 Juli 2008

Mastodon, Led Zeppelin versi prog-thrash

Band metal tidak selalu merasa menemukan ‘rumah’nya di komunitas underground. Contohnya, Mastodon. Lewat album ketiganya yang berjudul ‘Blood Mountain’, band progresif metal asal Atlanta, AS ini justru merasa sangat senang bisa dikontrak oleh label rekaman besar seperti Warner Bros.. Tanpa ragu, Bill Kelliher (gitar), Brann Dailor (drum), Troy Sanders (bas/vokal) dan Brent Hinds (gitar/vokal) langsung meninggalkan Relapse Records, label indie yang sebelumnya memayungi mereka dan merilis mini album ’Lifesblood’ (2001), ‘Remission’ (2002) dan ’Leviathan’ (2004) yang sempat didaulat sebagai album terbaik tahun 2004 oleh tiga majalah rock bergengsi, Revolver, Kerrang! dan Terrorizer.

Alasan pindah ke label besar sangat simpel. Mastodon butuh pengembangan. “Umur saya sekarang 35 tahun, saya punya istri dan anak. Tentu saja saya nggak bisa melenggang seenaknya ke sana-kemari. Relapse adalah label bagus, tapi kami tak bisa berkembang. Meskipun sekarang sudah jamannya internet, kami tetap harus punya album di toko-toko CD, dan Warner bisa menempatkan CD kami di lokasi di mana Relapse tak mampu melakukannya,” tandas Bill Kelliher kepada majalah Guitar World blak-blakan. Apalagi, Brent Hinds menambahkan, pihak Warner sama sekali tidak membatasi kreatifitas para personel Mastodon. “Kami bilang, kami bukan band radio. Dan ternyata Warner sangat mengerti: ‘Kalian lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, biarkan kami yang memikirkan bagaimana menjualnya.’. F**k yeah!”

MENGHINA DREAM THEATER
Seperti kebanyakan band yang mengonsep musiknya ke arah progresif, Mastodon juga menyebut Pink Floyd dan Rush sebagai panutan utama. Terutama saat menggarap ‘Leviathan’ dan ‘Blood Mountain’. Namun dengan tambahan unsur trash metal, mereka pun lebih setuju jika disebut sebagai band pengusung warna prog-trash. Tapi satu hal yang ditekankan sekali oleh Brent, Mastodon sama sekali tak mau disandingkan dengan Dream Theater. Seperti komentarnya yang termuat di Guitar World berikut ini; “Mereka semua berpakaian seperti kaum homo. Vokalisnya terutama: cara bernyanyinya seperti penyanyi opera, rambutnya, pakaiannya, musiknya... mereka benar-benar homo!”

Di ‘Blood Mountain’, Brent juga mengakui banyak terpengaruh pola musik Led Zeppelin dan The Edge (U2) pada permainan gitarnya. Seperti di lagu ‘Sleeping Giant’ dan ’Pendulous Skin’ yang masing-masing mengingatkan orang pada lagu ‘No Quarter’ dan ‘Heartbreaker’-nya Led Zeppelin.

“Led Zeppelin benar-benar penting. Saya benar-benar bisa merasakan pengaruhnya datang di seluruh lagu, bukan cuma pada intronya,” ungkapnya terus terang. Sementara di intro lagu ‘Sleeping Giant’, Brent menghadirkan sedikit kocokan riff ber-echo yang katanya ia tiru sedikit dari teknik yang dimainkan The Edge di lagu ‘New Year’s Day’.

Di Mastodon, Brent kelihatannya sangat memegang peranan penting di departemen gitar. Terutama untuk permainan dan penempatan solo. Bahkan menurut Bill, jika tak dicegah, solo gitar Brent bisa tersebar di mana-mana. Karena Bill sendiri mengakui Brent punya kemampuan lebih untuk itu. Sementara ia sendiri lebih senang sebagai gitaris ritem dan hanya mengambil alih sedikit porsi solo ketika Brent sibuk menyanyi di panggung. “Saya mulai belajar gitar ketika berumur 15 tahun dan mulai memainkan lagu-lagu milik Van Halen, Scorpions, Led Zeppelin.... Tapi saya nggak bisa memainkan semua solo-nya yang gila-gila, jadi saya coba, bagian ritemnya saja,” ucap pengagum Weezer, Franz Ferdinand, Led Zeppelin, Clutch, Burning Bride dan The Ramones ini terus terang.

Permainan gitar terbaik Brent antara lain diunjukkan di lagu ‘Capillarian Crest’, ‘Siberian Divide’ dan ‘Bladecatcher’. Di situ, gitaris pengagum Jimi Hendrix, Jimmy Page, Frank Zappa dan The Melvins tersebut memamerkan teknik chicken picking, di mana ia menggabungkan penggunaan pick dengan petikan jari. “Saya berasal dari Alabama, jadi instrumen yang pertama kali saya pelajari adalah banjo. Dari situlah lick fingerpicking saya. Teknik ini sangat sulit, kamu memang harus terlahir dengan itu,” jelasnya.

Untuk mendapatkan sound yang diinginkannya di album ini, Brent antara lain menggunakan kombinasi gitar Gibson Custom Flying V, Ibanez Tube Screamer yang dicolokkan ke head (ampli) Marshall 1978 JMP Mark II Lead Series 100-watt plus kabinet Marshall 4x12/speaker Celestion 75-watt. Selain itu, juga ada ‘senjata rahasia’ berupa pedal distorsi bernama Mastortion buatan temannya, John Spears. Menurut Brent, sebelum merekam permainannya menggunakan Mastortion, ia harus menyalin dulu setup volumenya. Karena tenaganya sangat besar. “Bergeser sedikit volumenya, (suaranya) bisa menghancurkan head ampli saya,” koar Brent sedikit berpromosi.

SEJARAH
Mastodon dibentuk tahun 1999 oleh Brann Dailor dan Bill Kelliher yang sebelumnya pernah mengibarkan band bernama Lethargy dan Today is the Day. Di Atlanta, keduanya lantas bertemu dengan Troy Sanders (dari band Four Hour Fogger dan Social Infestation) serta Brent Hinds, juga dari Four Hour Fogger serta band Fiend Without A Face.

Setahun kemudian, kuartet ini mulai membuat rekaman demo yang dikenal dengan judul ‘9 Song Demo’. Demo yang menampilkan vokal dari Eric Saner (vokalis pertama Mastodon) tersebut direkam di kepingan CD-R ini cukup laris manis saat dijual di tempat-tempat konser mereka. Demo ini pula yang lantas di-mastering ulang oleh Relapse Records dan dirilis dengan judul ‘Call of the Mastodon’, awal 2006.

Karena adanya pertentangan dengan personel lainnya, Eric Saner lantas mengundurkan diri sebelum Mastodon mengikat kontrak dengan Relapse Records pada tahun 2001. Tahun itu juga, Mastodon merilis album rekaman pertamanya bertajuk ‘Lifesblood’. Setelah album ‘Remission’, video klip Mastodon yang berjudul ‘March of the Fire Ants’ ditayangkan MTV2. Mereka juga lantas diundang untuk mendukung album kompilasi ‘Headbanger’s Ball’.

‘Blood and Thunder’, salah satu single dari album sukses mereka, ‘Leviathan’ menjadi populer dan masuk di beberapa soundtrack game balap. Tahun 2005, lagu tersebut juga menghiasi album soundtrack ‘Need for Speed: Most Wanted’ serta ‘Project Gotham Racing 3’.

Sebelum pindah ke Warner, dua rilisan penting Mastodon ditelurkan oleh Relapse Records. Masing-masing adalah ‘The Call of the Mastodon’ serta DVD ‘The Workhorse Chronicles’ yang memuat wawancara serta beberapa rekaman konser Mastodon dari era awal karir mereka.

DISKOGRAFI
Mastodon Demo (2000)
Slig Leg (EP, 2001)
Lifesblood (EP, 2001)
March of the Fire Ants (EP, 2002)
Remission (2002)
Emerald (Split 7”, 2003)
Blood and Thunder (Single, 2004)
Leviathan (2004)
Call of the Mastodon (2006)
Crystal Skull (7”, 2006)
Blood Mountain (2006)

Senin, 16 Juni 2008

Ancaman 10 Band Metal Ekstrim

Band-band beraliran metal seperti Korn, Slipknot, Deftones, Disturbed, Drowning Pool, Godsmack hingga System of A Down boleh mendominasi pemberitaan di media dan mencetak angka fantastis dalam penjualan album. Namun, di bawah bayang-bayang ketenaran mereka, ada beberapa band yang pelan tapi pasti mengancam posisi tersebut.

Kendati kebanyakan di antara mereka besar di kubangan underground, namun musik usungan ‘serdadu metal’ ini dianggap jauh lebih jujur dan ekspresif. Mereka benar-benar menggiring musik metal ke arah yang lebih ekstrim. Mengusung pengaruh Iron Maiden, Slayer, Testament, Metallica dan Sepultura ke tingkatan yang lebih menantang. Lebih gagah, skillful dan bertenaga. Tidak cuma mengandalkan riff-riff berat yang cepat, tapi juga sesekali selipan solo yang akrobatik ala gitaris shredder. Siapa saja mereka? Nih, deretan jagoannya!

LAMB OF GOD
Band yang tadinya bernama Burn the Priest ini berhasil memaksa para metal mania untuk menengok sepak terjang mereka ketika merilis album ‘As The Palaces Burn’. Karena, album yang diproduksi oleh Prosthetic Records (2003) ini mendapat banyak acungan jempol dari beberapa media tenar seperti Rolling Stone dan Entertainment Weekly. Di majalah musik Revolver dan Metal Hammer, ‘As The Palaces Burn’ malah didaulat sebagai album terbaik tahun itu. Berkat album ini pula Lamb of God bisa merasakan lantai panggung MTV’s Headbanger’s Ball Tour pada tahun itu juga. Sementara hasil dari album ‘Ashes of the Wake’ (Epic) yang dirilis sesudahnya berhasil membawa Lamb of God tampil di ajang bergengsi, Ozzfest 2004.

Perjalanan Lamb of God dimulai oleh sekelompok musisi muda yang kuliah di Virginia Commonwealth University. Mereka adalah Mark Morton (gitar), Chris Adler (dram) dan John Campbell (bas). Di tengah jalan, Mark sempat cabut dan digantikan oleh gitaris Abe Spear. Kemudian masuk pula vokalis Randy Blythe. Namun, sekitar setahun sebelum merilis album pertamanya, Mark masuk lagi. Abe ternyata tak bertahan lama. Posisinya lantas digantikan Willie Adler, saudara laki-laki Chris. Formasi inilah yang lantas mendukung penggarapan album debut ‘New American Gospel’ (2000), kerjasama pertama dengan Prosthetic Records.

Menurut Mark, olahan musik yang dibawakan Lamb of God bukan standar yang dipakai band metal pada umumnya. Karena band yang baru saja merilis album ‘Burn the Priest’ (Epic) ini tidak ingin terbatasi oleh genre. “Kami akan selalu menjadi band trash metal, tapi saya lebih tertarik mengeksplorasi apa yang bisa kami kembangkan dari batasan-batasan genre musik yang ada,” cetusnya meyakinkan.

MASTODON
Mastodon mulai menggeliat dari kawasan Atlanta, AS sejak awal tahun 2000. Band yang mengusung peleburan grind, hardcore dan titik terpanas pada genre metal ini digerakkan oleh vokalis sekaligus basis Troy Sanders, gitaris Brent Hinds serta dua musisi mantan personel kelompok musik Today Is the Day, gitaris Bill Kelliher dan dramer Brann Dailor.

Adalah label rekaman Relapse yang pertama kali menangkap denyut musik yang menjanjikan pada Mastodon. Pada tahun 2002, Mastodon merilis album mini bertajuk ‘Lifeseblood’. Setahun kemudian, album full pertama mereka yang berjudul ‘Remission’ lahir. Album inilah yang membawa mereka pada kesibukan tur panjang sebelum kembali ke studio dan menggarap ‘Leviathan’ (2004).

Menurut gitaris Bill Kelliher tentang konsep musik Mastodon, bahwa sebenarnya apa yang mereka mainkan tak lebih dari suguhan musik old school metal. “Tapi kami terjebak di dunia nu-metal,” tandasnya.

SHADOWS FALL
Shadows Fall termasuk band metal yang paling sering mendapat ulasan di berbagai media musik. Kualitas musik usungan mereka, terutama ketika merilis album ‘The Art of Balance’ (2002) menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Sarat beat progresif yang dibumbui permainan instrumen yang mengandalkan penguasaan teknik tinggi. Dan ketika mereka muncul lagi lewat album ‘The War Within’ (2004), pujian pun mengalir deras. Shadows Fall dianggap sebagai pembawa wabah baru bernama ‘New Wave of American Heavy Metal’. Bahkan kedua gitarisnya, Jon Donais dan Matt Bachand disebut-sebut sebagai gitaris metal masa depan yang mampu membawa pengaruh Metallica, Slayer dan Iron Maiden ke level yang jauh lebih modern.

Dari Massachusetts, AS pada tahun 1996, Jon dan Matt mulai mengibarkan nama Shadows Fall. Keduanya lantas merekrut Phil Lebonte (vokal), Paul Romanko (bas) dan David Germain (dram) untuk memperkuat formasi. Sebelum merilis album pertamanya, ‘Somber Eyes to the Sky’ (1997), Shadows Fall sempat menjadi band pembuka konser Fear Factory dan Cannibal Corpse di Inggris.

Perubahan formasi terjadi setahun kemudian. Posisi vokalis Phil digantikan oleh Brian Fair, yang dianggap lebih memiliki kedinamisan dalam berolah vokal. Pada tahun 1999, band ini menandatangani kontrak rekaman dengan Century Media yang lantas menghasilkan album ‘Of One Blood’. Tapi nama Shadows Fall baru benar-benar berkibar kencang ketika merilis ‘The Art of Balance’ yang dibarengi penampilan di panggung Ozzfest (2003). Berkat album yang menghadirkan dramer baru, Jason Bittner ini pula, Shadows Fall mendapat kesempatan emas untuk menjadi band pembuka konser Slayer dan Pantera di Jepang. Reputasi yang sama, kembali mereka kantongi saat merilis ‘The War Within’ (2004) di bawah bendera Century Media.

GOD FORBID
Jika Shadows Fall didaulat sebagai pembawa gelombang baru heavy metal Amerika, God Forbid juga rupanya mencetak reputasi yang kurang lebih sama. Julukan untuk band besutan Byron Davis (vokal), Dallas Coyle (gitar), Doc Coyle (gitar), John Outcalt (bas) dan Corey Pierce (dram) ini adalah ‘New Wave of Swedish Death Metal’.

Tapi jangan salah, God Forbid sama sekali tidak berasal dari Swedia. Mereka besar di New Jersey, AS dan cuma mengembangkan pengaruh death metal dari negara tersebut yang kemudian mereka aduk dengan pengaruh metal ala Hatebreed, Pantera dan Sepultura. Mereka berhasil mengukir namanya sebagai salah satu band metal yang patut diwaspadai setelah menggebrak lewat serangkaian konser bersama Nile, Cradle of Filth, Sevendust, Soul Brains dan Shadows Fall.

Tahun 1998, merupakan awal God Forbid memasuki dunia rekaman. Mereka merilis album mini berjudul ‘Out of Misery’. Album penuh pertama mereka baru muncul sekitar dua tahun kemudian, yakni ‘Reject the Sickness’ yang dirilis oleh 9 Volt Records. Karena mendapat sambutan yang cukup meriah, Century Media Records pun langsung menyambar God Forbid untuk kontrak rekaman. Dari kerjasama keduanya, lahirlah album ‘Determination’ (2001) dan ‘Gone Forever’ (2004) yang beredar secara internasional.

IN FLAMES
Di Swedia, In Flames adalah band metal nomor satu. Mereka mengandalkan leburan pengaruh Iron Maiden dan Black Sabbath ke dalam adonan musik metal modern yang sangat agresif. Kualitas terbaik mereka terlihat ketika merilis album ‘Soundtrack To Your Escape’ (2004) yang berhasil merajai semua chart lagu dan album metal di seluruh radio seputar Belanda, Jerman, Italia dan Swedia tentunya.

Sementara salah satu single dari karya masterpiece tersebut, yakni ‘The Quiet Place’ mampu menerobos hingga peringkat kedua di tangga Top Ten Swedia. Sekaligus, single tersebut juga menjadi lagu bercorak metal pertama yang bertahan selama hampir sebulan. Sementara video klipnya, mencatat request terbanyak di MTV Eropa. Hanya besar di negara-negara Eropa? Tidak juga. Sebab ketika dirilis di Amerika, album In Flames ini berhasil terjual sebanyak 10 ribu keping dan nangkring di deretan Billboard US Top 100.

Adalah Jesper Stromblad, mantan gitaris band Ceremonial Oath yang memulai perjalanan In Flames. Karena ia merasa butuh wadah yang lebih luas untuk menyalurkan kreatifitasnya dalam bermusik, maka ia membentuk In Flames. Album pertama berjudul ‘Lunar Strain’ dirilis pada tahun 1993 oleh label lokal di Swedia, yakni Wrong Again Records.

Pada tahun 1996, In Flames yang kini diperkuat Jesper Stromblad, Anders Friden (vokal), Bjorn Gelotte (gitar), Peter Iwers (bas) dan Daniel Svensson (dram) dikontrak oleh Nuclear Blast Records. Dari label ini, lahir album ‘Jester Race’ (1995), ‘Whoracle’ (1997), ‘Colony’ (1999), ‘Clayman’ (2000), ‘The Tokyo Showdown: Live’ (2001), ‘Tokyo Showdown (live)’ (2001), ‘Reroute to Remain’ (2002) dan ‘Soundtrack to Your Escape’ (2004).

KILLSWITCH ENGAGE
Rombongan metal satu ini memang sejak awal sudah akrab dengan komunitas metal underground. Sebab sebelum dibentuk, Mike D’Antonio, basisnya, adalah pentolan utama sekaligus penulis lagu Overcast, kelompok metal underground yang sudah legendaris.

Salah satu alasannya kemudian membentuk Killswitch Engage karena ia ingin menemukan perpaduan musisi yang bisa bersenyawa mengusung penggabungan corak hardcore dan metal yang lebih melodius. Makanya, ketika Overcast tutup buku, Mike langsung mengajak dramer Adam Dutkiewitz, gitaris Joel Stroetzel dan vokalis Jesse Leach untuk mengibarkan Killswitch Engage.

Debut pertama band ini dijajal di sebuah ajang musik yang juga menampilkan In Flames. Melihat kebrutalan musik mereka, label Ferret lantas meminang Killswitch Engage untuk kontrak rekaman. Pada Juni 2000, album perdana Killswitch Engage pun dirilis.

Setahun kemudian, Killswitch ikut memeriahkan sebuah album kompilasi berjudul ‘Nasty Habits’ yang juga menghadirkan lagu dari God Forbid, Unearth dan Poison the Well. Setelah itu, keberuntungan lain pun menghampiri. Label rekaman khusus rock yang sudah termahsyur, Roadrunner Records ternyata juga tertarik pada penampilan mereka. Pada 2002, album pertama di bawah naungan Roadrunner bertajuk ‘Alive or Just Breathing’ pun dirilis di seluruh dunia. Disusul kemudian album ‘The End of Heartache’ pada tahun 2004.

UNEARTH
Trevor Phipps (vokal), Ken Susi (gitar), Buzz McGrath (gitar), John Maggard (bas) dan Mike Justain (dram) menjual peleburan heavy metal hardcore gaya Amerika dan Eropa dengan imbuhan riff-riff kharismatik yang unik. Olahan inilah yang membuat nama Unearth, kelompok musik asal Massachusetts, Amerika Utara ini cepat membubung di kalangan penikmat musik metal underground.

Makanya, sejak dibentuk pada tahun 1998, bisa dibilang tawaran manggung buat Unearth langsung mengalir. Dengan jadwal yang padat, mereka telah melanglang hingga ke Kanada dan negara-negara Eropa mendampingi band-band seperti Shadows Fall, In Flames, Poison the Well, Hatebreed, Lamb of God, Killswitch Engage, Soilwork, From Autumn to Ashes hingga Chimaira. Bahkan ajang Headbangers Ball Tour (2003) juga disambanginya.

Hingga saat ini, Unearth telah mengantongi empat album, yakni ‘The Stings of Conscience’ (2001), ‘Endless’ (2002), ‘Above the Fall of Man’ (2002), dan ‘The Oncoming Storm’ (2004).

CHILDREN OF BODOM
Konsep musik Children of Bodom lebih mengarah ke black metal. Sesuai dengan namanya, yang diilhami peristiwa pembunuhan massal yang tercatat di sejarah Skandinavia. Children of Bodom sendiri dibentuk di Espoo, Finlandia pada tahun 1993 oleh penyanyi sekaligus gitarisnya, Alexi Laiho dan dramer Jaska Raatikainen.

Perjalanan selanjutnya, untuk melengkapi formasinya, direkrut pula gitaris Alexander ‘Ale’ Kuoppala, basis Henkka Blacksmith serta kibordis Janne Wirman. Dengan formasi ini, Children of Bodom merilis album ‘Something Wild’ yang juga diedarkan di Amerika oleh label Nuclear Blast pada tahun 1998. Album selanjutnya adalah ‘Hatebreeder’ (1999) dan ‘Follow the Reaper’ (2001).

Memasuki album keempat, Children of Bodom pindah ke label Century Media dan merilis ‘Hate Crew Deathroll’ pada tahun 2003. Namun sekitar setahun sebelumnya, band ini sempat pula merilis album konser berjudul `Tokyo Warhearts’, diproduksi oleh Toy’s Factory.

SOILWORK
Berbeda dengan Children of Bodom, Soilwork malah awalnya dibesarkan oleh label Century Media sebelum pindah ke Nuclear Blast. Ketika dinaungi label pertama, band asal Swedia yang mengusung corak ultra-heavy death metal dengan sapuan power-groove riff ala metal Inggris dan Eropa ini merilis album ‘Steel Bath Suicide’ (1998) dan ‘The Chainheart Machine’ (2000).

Namun selanjutnya, pihak Nuclear Blast rupanya tertarik dengan konsep musik band bentukan tahun 1997 ini. Tahun 2001 menandai awal kerjasama keduanya dengan diluncurkannya album ‘A Predator’s Portrait’. Selanjutnya, Soilwork merilis ‘Natural Born Chaos’ (2002), ‘Figure Number Five’ (2003) dan ‘Stabbing the Drama’ (2005).

Ketika pertama kali dibentuk, Soilwork diperkuat oleh vokalis Bjorn ‘Speed’ Strid, gitaris Peter Wiches dan Ola Frenning serta dramer Henry Ranta. Demo pertama yang mereka bikin berjudul ‘In Dreams We Fall Into the Eternal’. Selanjutnya, Soilwork menambah jumlah personel dengan menggaet basis Ola Flink dan kibordis Carlos Del Olmo Holmberg.

DIMMU BORGIR
Perjalanan Dimmu Borgir sudah dimulai pada tahun 1993. Sejak itu, band asal Norwegia ini secara konsisten mengusung aliran black metal yang ditampilkan secara lebih brutal. Namun sebagai variasi, mereka juga menyuplai unsur melankolik ala opera serta trik-trik khusus dari musik industrial.

Geliat Dimmu Borgir dimulai oleh Trio Shagrath (vokal), Erkekjetter Silenoz (gitar) serta Tjodalv, dramer yang juga seorang gitaris. Selanjutnya, masuk pula basis Brynjard Tristan dan kibordis Stian Aarstad saat merilis single ‘Inn I Evighetens Morke’. Namun seiring dengan perjalanan karir Dimmu, formasi personelnya terus mengalami perubahan. Tercatat nama-nama seperti Kovenant, Kimberly Goss, Mustis, dan Aggressor pernah memperkuat band ini.

Tahun 1994, Dimmu Borgir mulai mendapat perhatian internasional saat menggelar tur keliling Eropa. Setelah itu, gaung Dimmu semakin menjadi-jadi. Album mereka yang berjudul ‘Stormblast’ (1996) malah berhasil mendapat perhatian lebih banyak dibanding album milik pengusung band death goth metal lainnya, yakni Emperor dan Cradle of Filth. Setelah ‘Stormblast’, Dimmu Borgir merilis delapan album rekaman, yakni ‘Enthrone Darkness Triumphant’ (1997), ‘Godless Savage Garden’ (1998), ‘Spiritual Black Dimensions’ (1999), ‘Puritanical Euphoric Misanthropia’ (2001), ‘Alive in Torment’ (2002), ‘Death Cult Armageddon’ (2003) dan ‘Sons of Satan/Gather for the Attack’ (2004).

Sabtu, 24 Mei 2008

Trivium, the next Metallica!

Trivium yang dibentuk pertama kali pada tahun 2000 ini sebenarnya sudah pernah merilis album berjudul ‘Ember to Inferno’ (2003). Waktu itu, formasinya cuma dihuni oleh vokalis sekaligus gitaris Matt Heafy, dramer Travis Smith serta basis Brent Young. Ketiganya mendapat sambutan yang cukup bagus lewat usungan garukan cadas ala Metallica awal yang diramu bersama elemen metal yang progresif nan agresif.

Nah, gaung album itulah yang membuat perusahaan rekaman Roadrunner terpikat dan akhirnya mengontrak mereka. Hasilnya, pada Maret 2005 lahirlah album ‘Ascendancy’ yang juga telah diedarkan oleh PT Indo Semar Sakti di Indonesia. Di album ini, Trivium yang berasal dari kawasan Orlando, Florida AS ini mengubah formasinya dengan mengajak basis Paolo Gregoletto (menggantikan Brent) serta gitaris Corey Beaulieu bergabung.

Lewat ‘Ascendancy’ yang mengunggulkan single ‘Pull Harder on the Strings of your Martyr’, seketika nama Trivium melesat ke permukaan. Majalah-majalah musik, khususnya di Amerika, banyak yang memuat artikel tentang mereka. Sekaligus, juga taburan pujian. Bahkan, Trivium disebut-sebut sebagai ‘Metallica generasi baru’ karena adonan musiknya yang tidak cuma mengumbar unsur trash modern, tapi juga menaburkan banyak elemen yang melodik. Tapi seperti yang diakui oleh Travis. Mereka sama sekali tidak keberatan jika dianggap sebagai penerus Metallica. “Adalah sebuah penghargaan yang tinggi buat kami. Metallica adalah band favorit kami sejak awal. Kami bangga bisa menjadi penerusnya, sebab memang itulah yang kami lakukan. Kami memang meramu sound yang trash, namun juga memiliki sisi yang melodik.”

Pengaruh Corey Beaulieu
Ketika diwawancarai oleh SMNnews.com, gitaris Corey Beaulieu menyebut musik ‘Ascendancy’ sebagai karya yang benar-benar keras. Juga jauh lebih cepat dan berat dibanding ‘Ember to Inferno’. “Juga lebih melodik dan sarat ‘semangat perang’. Dan untuk permainan gitar, kami telah mencoba memainkan banyak variasi. Kami tak pernah berhenti pada satu pola saja.”

Khusus untuk gitar, Corey juga mengakui bahwa di beberapa lagu ia banyak terpengaruh oleh racikan aransemen gitar ala Metallica, Megadeth, Slayer hingga Pantera. “Selamanya saya akan selalu mendengarkan Pantera. Dimebag (gitaris Pantera) sangat jenius, man! Sayang kita tak lagi bisa mendengar karya musik dari Pantera atau pun Damageplan.”

Selain band-band tadi, Corey juga melahap hampir semua band metal yang mengetengahkan permainan gitar yang bagus. Guns N’ Roses adalah band pertama yang sering didengarnya, karena ia sangat mengidolai Slash. Namun ketika Corey mendengarkan album Megadeth, ia langsung terpikat pada duet gitar Dave Mustaine dan Marty Friedman. Setelah itu, Corey pun melahap band-band sejenis seperti Metallica, Slayer, Pantera, Iron Maiden hingga Pantera. Corey bahkan juga menyimak permainan gitar Yngwie Malmsteen, dan band-band metal angkatan ‘80-an kayak Motley Crue, Dokken, Warrant, Winger, White Lion, Whitesnake dan Extreme. “Memang sih lagu-lagunya kadang cengeng, tapi permainan gitarnya luar biasa!”